Rabu, 12 Jun 2013
Dengan Rp 100 Ribu Sudah Bisa 'Tiduri' ABG 17 Tahun
KUPANG -- Masalah penyakit sosial kemasyarakat (Pekat) yang berkaitan dengan bisnis prostitusi (esek-esek) di sejumlah sudut/tempat di jantung Kota Kupang saat ini masih banyak yang luput dari perhatian pemerintah setempat dan luput dari pantauan masyarakat kota ini.
Bisnis prostitusi yang terjadi dalam lingkungan masyarakat di beberapa tempat di Kota Kupang cukup 'transparan' dan bisa dilihat serta diamati masyarakat walaupun bisnis 'air lendir' ini tidak menggangu masyarakat sekitar.
Dari hasil investigasi wartawan selama beberapa hari terakhir di sejumlah lokasi bisnis prostitusi di wilayah Kelurahan Fontein, Kecamatan Kota Raja, dan di wilayah Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa menemukan sejumlah spefisikasi unik hasil temuan lapangan yang cukup mencengangkan.
Dan hasil investigasi ini bagi kebanyakan masyarakat di wilayah Kota Kupang belum mengetahui adanya fenomena penyakit sosial bisnis prostitusi yang cukup mengagetkan dan menggemparkan ini karena melibatkan puluhan anak gadis berusia rata-rata 17 tahun.
Sebagai contoh, di punggung bukit Sasando, pada Jalan Sam Ratulangi, Kelurahan Kelapa Lima, Kota Kupang terdapat deretan bangunan dengan model kos-kosan yang berdiri di sisi lintasan jalan propinsi ternyata beroperasi sejumlah perempuan/wanita 'ayam' lokal berusia sangat belia.
Bagi kebanyakan pengguna jalan melintas jalan ini tidak akan menduga jika dalam kamar kos-kosan itu sudah 'stand by' sejumlah perempuan lokal berusia rata-rata 17 tahun.
Para gadis lokal berusia belia ini berpenampilan sangat sedehana umumnya domisili di wilayah pinggiran Kota Kupang, namun sering mangkal dan beroperasi menunggu 'tamu' para lelaki hidung belang yang sering datang melampiaskan nafsu birahinya.
Salah satunya Eka bukan nama sebenarnya. Ia secara jujur di hadapan tamunya menawarkan tarif jasa layanan secara gamblang.
"Kalau siang tarif sekali 'kayuh' (sekali tidur,red) Rp 100 ribu. Kalau malam Rp 150 ribu,"ujar Eka dengan nada polos.
