Nuffnang Ads

SAJIAN KAMI

BERITA-BERITA KASUS JENAYAH SEKSUAL DAN BERITA-BERITA SEMASA..

Selasa, 3 Ogos 2010

Angkut Air Hospital Raja Perempuan Zainab


DUA jururawat di wad bersalin Hospital Raja Perempuan Zainab II terpaksa mengangkut air dari luar untuk keperluan pesakit dan petugas di wad tersebut akibat masalah bekalan air yang berterusan di hospital tersebut, di Kota Bharu, Kelantan.

Johan Tilawah Al-Quran Antarabangsa 2010


JOHAN Qari dan Qariah Tilawah al-Quran Peringkat Antarabangsa ke-52, Hani Abdel Aziz dari Mesir (kanan) dan Samia Khanan dari Pakistan bersama hadiah dimenangi di PWTC, malam tadi.

Wanita Hamil "Ngamar" dengan Bukan Suami



PALU, KOMPAS.com - Seorang wanita muda yang tengah hamil terjaring razia oleh Kepolisian Resor (Polres) Palu, Sulawesi Tengah, dalam operasi cipta kondisi di wilayah itu. Kepala Bagian Operasional Polres Palu Kompol Gugun SH kepada wartawan di Palu, Rabu (4/8/2010) mengatakan, wanita hamil itu diamankan polisi di dalam kamar hotel di Kota Palu bersama pasangannya.

Saat diinterogasi, kata dia, wanita itu tidak memperlihatkan identitas resmi sebagai pasangan suami istri. "Sehingga kita amankan ke Mapolres Palu untuk dimintai keterangan," katanya.

Selain wanita hamil dan pasangannya, polisi juga mengamankan delapan pasangan tidak resmi yang tertangkap basah sedang berdua di dalam hotel. Kesembilan pasangan tak resmi itu diamankan petugas dari tujuh hotel di Kota Palu.

Menurut Kompol Gugun, pihaknya menggelar operasi cipta kondisi dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Selain itu, lanjut Gugun, dalam operasi itu, polisi juga berhasil mengamankan puluhan botol minuman keras berbagai merek, termasuk minuman keras tradisional jenis "cap tikus" yang tidak memiliki izin penjualan.

Puluhan botol minuman keras itu diperoleh dari beberapa tempat seperti kios, toko dan warung remang-remang di Pantai Talise. "Tujuan operasi ini untuk menciptakan situasi aman dan tenang memasuki bulan puasa nanti, sehingga umat Islam bisa menjalankan ibadah dengan nyaman dan tenang," tegas Gugun.

Untuk itu, pihaknya masih akan melanjutkan operasi serupa di sejumlah lokasi hingga hal-hal yang bisa mengganggu keamanan dan ketertiban di wilayahnya.

Ibu Utang Rp 10 Juta, Anak Diracun



KOMPAS.com — Utang adalah tanggung jawab. Utang harus dibayar. Jika tidak bisa membayar utang, artinya malu. Rasa malu inilah yang mungkin mengawali cerita sedih dari Lumajang ini. Reni Yuliana (32) bersama dua anak perempuannya, Ragil Febrianti (6) dan Fafa Sahara (3), hingga Selasa (3/8/2010), masih tergolek di RSUD dr Haryoto Lumajang. Ketiganya baru saja menenggak racun tikus.

Warga Dusun Bedog, Desa Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, itu Senin (2/8/2010), mengajak kedua anaknya secara bersama-sama menenggak racun tikus. Ketiganya tergeletak tak sadarkan diri di dalam rumah. Peristiwa itu diketahui anak sulungnya, Pegi (14) yang kemudian melaporkan kepada para tetangga. Ketiganya segera dilarikan ke rumah sakit.

Kepada para wartawan Reni menuturkan, keputusan meminum racun tikus karena merasa tak mampu mengembalikan utang. Menurut Reni, jumlah utangnya mencapai Rp 10 juta lebih. “Puasa dan hari raya Idul Fitri sudah dekat. Saya harus segera mengembalikan seluruh utang saya, sedangkan saya tidak punya apa-apa,” tutur Reni lemah.

Reni dirawat di Ruang Melati didampingi ibu tirinya, Mutmainah (52). Sedangkan Febri dan Fafa Sahara yang akrab disapa Rara terbaring di Ruang Bougenville ditemani ayahnya, Totok Triwahyudi (37). Selang infus masih tampak di tangan mereka.

Menurut penuturan Mutmainah, Reni juga mencekoki kedua anaknya dengan racun tikus karena tak tega meninggalkan keduanya jika dia meninggal dunia. “Kalau saya enggak ada, siapa yang akan merawat keduanya. Karena itu, biar saya ajak serta kedua anak saya,” ucap Mutmainah menirukan kata-kata Reni.

Reni menenggak 10 bungkus racun tikus berupa bubuk, sedangkan kedua anaknya masing-masing satu sendok. Kepada kedua anaknya, Reni mengatakan yang diminum adalah jamu.

Reni mengaku dirinya selama ini hidup pas-pasan. Apalagi setelah anak sulungnya yang masih SMP baru sembuh dari sakit. Dirinya pun berutang hingga Rp 10 juta. “Saya hidup pas-pasan karena suami saya hanya bekerja sebagai kernet truk. Yang membuat saya bingung, selain saya tidak punya uang simpanan untuk kebutuhan Lebaran yang sudah dekat, belakangan ini saya terus ditagih utang,” kata Reni.

Setelah uang yang dipinjam dari kredit arisan kampung ludes, barulah Reni bingung. Apalagi utang itu tidak diketahui suaminya. “Saya memang niat bunuh diri saat suami saya berangkat bekerja ke Solo. Suami saya biasanya pulang tiga hari sekali. Saya bunuh diri karena kasihan dengan suami lantaran saya yang memang nekat berutang dan suami tidak tahu,” ungkapnya.

DI INDONESIA: Politisi Jual Istri Rp 500.000

( Foto hiasan )


KOMPAS.com — Ini masih cerita tentang perilaku manusia. Perbuatan politisi asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Khaerul Asril (31), memang benar-benar bejat. Ia tega menjual istrinya, ND (27), kepada broker rumah bordil dengan bayaran Rp 500.000 sekali kencan. Uang hasil "keringat" sang istri itu digunakan Khaerul yang mempunyai banyak utang setelah gagal menjadi anggota DPRD Polewali Mandar (Polman) pada Pemilu 2009.

Aksi politisi ini terungkap dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Polman, Selasa (3/8/2010). Atas perbuatannya, jaksa penuntut umum (JPU) M Syukur menuntut Khaerul selama lima tahun penjara karena terbukti menjual istrinya untuk membayar utangnya yang bertumpuk. Ia dijerat Pasal 8 Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Saudara sepupu ND yang bernama Najar mengatakan, tingkah laku Khaerul memang aneh setelah gagal menjadi anggota Dewan. Kebobrokan Khaerul yang setiap hari berprofesi sebagai makelar motor semenjak gagal menjadi anggota Dewan tersebut mulai terbongkar setelah ia menikahkan Gapur, saudara kandung ND.

"ND mulai menceritakan permasalahan yang menimpa rumah tangganya. Ia berkata kepada Gapur bahwa Khaerul sering kali memaksa dirinya untuk melayani laki-laki dengan tarif Rp 500.000. Itu agar utang-utangnya dengan orang lain terbayar," kata Najar meniru perkataan ND saat mengadu ke saudaranya.

Ditanya soal kehidupan sehari-hari Khaerul dan ND, Najar menuturkan, selama ini kehidupan keduanya rukun-rukun saja. ND setiap hari menjual pulsa dan masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Sulbar, sedangkan Khaerul bekerja sebagai makelar motor. Namun, setelah gagal menjadi anggota Dewan, Khaerul berubah.

"Sudah mencalonkan diri jadi anggota Dewan baru tingkah lakunya berbeda dari sebelumnya, hingga ia menjadikan istrinya sebagai PSK," ujar Najar.

Saat mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Polman, Khaerul memang meminjam uang untuk membiayai kampanyenya. Namun, impian Khaerul kandas. Perolehan suara Khaerul tak cukup untuk mengantarnya duduk sebagai anggota Dewan yang terhormat.

Khaerul pun bingung mencari cara agar bisa mengembalikan uang yang dipinjamnya tersebut. Dan entah dari mana datangnya, dia tahu-tahu memiliki ide untuk menjual istrinya yang memang masih berusia muda. ND pun dipaksa menjadi PSK dengan tarif Rp 500.000 sekali kencan.

Rupanya ND tidak terima dijadikan sapi perahan suaminya. Diam-diam, dia melaporkan Khaerul ke polisi. Tanpa menunggu lama, polisi segera menangkap pria bejat tersebut. "Khaerul mengancam akan membunuh ND jika kemauannya tidak dituruti. Bukti-bukti kami sudah cukup berdasarkan pengakuan saksi-saksi yang pernah 'menyewa' ND," ujar JPU Syukur.

DI MALAYSIA: Kikis duit gaji - isteri sedang koma

Robaeyah menjaga anaknya, Zalina yang terlantar.


KUALA LUMPUR: Malang berganda menimpa seorang isteri yang terlantar sakit sejak lebih setahun lalu apabila dia diabaikan suami yang bukan saja langsung tidak pernah datang menjenguk, malah turut mengikis gajinya yang amat diperlukan untuk menampung kos perubatan menjangkau ribuan ringgit setiap bulan.

Zalina Elias, 30, yang juga kakitangan Pejabat Pos Padang Temu, Melaka, kini bergantung hidup kepada ibu kandungnya yang uzur sambil mengharapkan ihsan sanak-saudara.

Ibunya, Robaeyah Mansor, 54, berkata penderitaan Zalina bermula kira-kira setahun lalu apabila dia mengalami batuk berdarah sebelum jatuh pengsan dan dimasukkan ke Hospital Melaka hampir dua bulan.

Doktor yang merawatnya memberitahu Zalina diserang penyakit tibi, namun agak menghairankan kerana dia selalu tidak sedarkan diri dan koma.

“Malah, dia pernah putus nafas hampir 20 minit sebelum doktor memulihkannya. Namun, keadaannya tidak ubah seperti mayat hidup apabila hanya bernafas dengan keadaan mata terbuka tanpa memberi reaksi.

“Lebih menyedihkan, sepanjang dia terlantar sakit dua bulan di hospital, mak cik terpaksa menjaganya bersendirian kerana suaminya bersikap acuh tak acuh dan enggan ambil tahu keadaan isterinya.

“Hati saya terguris apabila mengenangkan anak perempuan saya yang terlantar tanpa perhatian suami. Saya yang menjaganya sepanjang masa terpaksa membawanya pulang ke kampung di Felda Tenggaroh 3, Mersing, Johor,” katanya.

Robaeyah yang kini menjaga Zalina di rumah adiknya di Sijangkang, Banting, Selangor berkata, dia sering menitiskan air mata apabila mengenangkan kelakuan menantu yang langsung tidak mengendahkan keadaan isterinya itu, jauh sekali membantu mengangkat Zalina untuk dimasukkan ke dalam kenderaan bagi menjalani rawatan.

“Lebih mengecewakan, semua wang gaji anak saya diambil suaminya berikutan kad juruwang automatik (ATM) dipegangnya. Kami pernah bertanyakannya, namun jawapan diberi amat mengecewakan.

“Wang gaji bulanan anak saya RM1,400 sepatutnya boleh digunakan bagi menampung kos rawatan, sebaliknya diambil semua si suami,” katanya.

Berikutan itu, kata Robaeyah, adiknya, Ibrahim Mansor, 44, membuat aduan di Ibu Pejabat Pos Besar Malaysia di sini, pada minggu lalu berhubung masalah berkenaan.

Katanya, pihak pengurusan Pos Malaysia berjanji memberikan bantuan sewajarnya dan meminta mereka membuka akuan bank baru atas nama Zalina bagi memudahkan urusan memasukkan gaji bulanannya selepas ini.

“Saya kesal kerana menantu mengambil kesempatan terhadap penderitaan isterinya dan langsung tidak mahu menjenguk isteri yang terlantar di kampung. Zalina kini seperti dibuang suami dan hanya menunggu detik ajal,” katanya.

Menurutnya, kesukaran untuk menjaga Zalina menyebabkan seorang lagi anaknya, Siti Norhamidah Elias, 23, terpaksa berhenti kerja untuk membantu menjaga Zalina.

“Bukan mudah menjaganya berikutan Zalina perlu dipantau sepanjang masa walaupun koma. Dia kini hanya hidup dengan minuman susu menggunakan saluran tiub yang dimasukkan melalui hidung.

“Kami perlu sentiasa memastikan saluran pernafasan di lehernya yang ditebuk tidak tersumbat lendir dan kahak. Dia juga perlu dibersihkan dan dipakaikan lampin pakai buang, ”katanya.

Robaeyah berkata, dia perlu membelanjakan RM60 setiap dua hari bagi membeli susu khas untuk Zalina dan membawanya ke hospital di Johor hampir setiap bulan untuk menjalani pemeriksaan susulan.

“Saya dan adik kini berusaha membawa Zalina ke Banting untuk menjalani rawatan secara tradisional. Kami terpaksa mencuba pelbagai cara sama ada moden atau tradisional dengan harapan Zalina akan sembuh,” katanya.

Misteri kematian bekas ADUN bersama janda

ANGGOTA polis mengangkat salah seorang mangsa yang ditemui mati dalam kereta di Sungai Buloh semalam.


SUNGAI BULOH - Sepasukan polis trafik semalam menyangka kemalangan maut melibatkan sebuah kereta Toyota Caldina berwarna putih dinaiki dua individu yang berlaku di Kilometer 455.7, Lebuh Raya Utara-Selatan selepas susur Sungai Buloh sebagai kemalangan biasa.

Bagaimanapun, sangkaan mereka meleset apabila mendapati bukan sahaja mangsa yang maut dalam kemalangan pukul 11 pagi itu sebagai orang penting, malah dipercayai terdapat unsur jenayah apabila melibatkan senjata api.

Sehubungan itu, ia ibarat misteri yang menyelubungi kematian bekas Ahli Dewan Undangan Negeri (ADUN) Permatang, Selangor, Datuk Abdul Aziz Mohd. Noh, 64, bersama pembantu peribadinya, Siti Rohana Ismat, 43, apabila terdapat kesan tembakan di kepala masing-masing.



Abdul Aziz pernah berkhidmat sebagai ADUN Permatang bagi tempoh 2004 hingga 2008 dan kini memegang jawatan sebagai bendahari Majlis Bekas Wakil Rakyat (Mubarak) Selangor.

Siti Rohana yang merupakan janda anak empat menetap di Kampung Sungai Gulang-Gulang, Tanjung Karang pula merupakan Naib Ketua Wanita UMNO Bahagian Tanjung Karang. Dia juga dikatakan seorang ahli perniagaan di kawasan tersebut.

PENCARIAN DIBLOG INI

Arkib Blog

Anda juga perlu baca

Related Posts with Thumbnails

Pengikut

Test for your internet speed

Ads

Catatan Popular