* Pidato Pengukuhan Prof Dr Sugiyarto MSiSOLO - Keanekaragaman budaya Jawa sering dinilai syirik. Itu penilaian secara membabi buta, karena sebetulnya banyak yang bisa diluruskan. Kandungan nilai yang bisa diurai secara ilmiah sangat besar. Termasuk di dalamnya urusan keanekaragaman hayati atau biodiversitas.
''Mestinya kita bisa memahami dari sisi tanggap ing sasmita, tanggap sasmitaning zaman, karena semua konsep budaya itu bernilai dan bermakna sangat dalam. Bukan sekadar vonis syirik semata,'' kata Prof Dr Sugiyarto MSi saat pengukuhannya sebagai Guru Besar Ke-146 UNS.
Dia dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu Biologi MIPA. Keseriusannya mengamati keanekaragaman budaya Jawa, menjadikannya banyak mengupas berbagai fenomena budaya yang selama ini muncul di masyarakat.
Rektor Prof Ravik Karsidi memuji hal itu, karena sedikit ilmuwan yang memiliki komitmen pada budaya. Apalagi ini justru datang dari ilmuwan yang berlatar belakang bidang MIPA, khususnya Biologi. ''Banyak yang bertanya, Pak Giyarto ini sebetulnya guru besar bidang budaya apa biologi? Tapi, inilah uniknya ilmu pengetahuan. Sisi mana pun bisa ditelaah dari sisi keilmuan,'' kata dia.
Yang lebih unik, profesor yang memilih disebut profesor ndesa, karena tinggal di lereng Merapi, Desa Kadilaju, Klaten, itu ternyata pencipta lagu keroncong. Sudah 70 lagu diciptakan. ''Saya menunggu kapan diberi kaset rekaman lagu-lagunya. Saya kira ini menarik, karena Prof Giyarto menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri secara bagus,'' kata Rektor.
Dalam pidatonya, bapak berputra delapan ini mencontohkan upacara tradisi yang digelar di berbagai daerah. Setiap upacara baik perkawinan, kehamilan, tingkeban, kelahiran, sunatan, sampai kematian, membutuhkan ubarampe berbeda-beda. Semua berkaitan dengan keanekaragaman hayati.
Kalau disikapi secara syirik, tentu karena setiap ubarampe itu mengandung makna dan perlambang kekuatan atau permohonan. Namun, dari sisi ilmiah, sebetulnya menunjukkan upaya mengenalkan, mensifati, menilai, dan menjaga eksistenti, serta melestarikan biodiversitas itu, baik spesies hewan, varietas tanaman, kultivar, dan galur.
''Ada lagi pranata mangsa yang mengatur tata tanam, sabuk gunung yang mempraktikkan terasering, pengelolaan pekarangan rumah dengan sistem agroforestri, yang oleh pujangga Ranggawarsita sudah dibuat tembangnya,'' kata dia yang lahir 30 April 1967 ini.
