Buya Syafii MaarifSURABAYA - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafi’i Ma’arif mengaku dirinya hingga kini masih ‘tidak disapa’ oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait pernyataannya pada 2008 lalu. Kala itu, Buya—panggilan Syafi’i Ma’arif menyebut bahwa the real presiden (presiden sebenarnya) adalah Jusuf Kalla. Komentar itu yang akhirnya membuat Presiden SBY marah kepada Buya.
Pengakuan itu disampaikan Syafi’i Ma’arif saat menghadiri acara Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) I Muhammadiyah Jatim di kantor Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim bertema konsolidasi organisasi untuk mandiri dan mengabdi, Minggu (4/12).
“Waktu itu (November 2008) saya memang kurang ajar. Yang presiden SBY tapi saya bilang Wapres Jusuf Kalla adalah the real president atau presiden sebenarnya. Tetapi memang JK sering buat gebrakan. Itu yang tidak enak didengar sehingga presiden pmarah luar biasa,” kata Syafii Maarif kepada wartawan.
Namun, Buya Syafii Maarif menyangkal ada perseteruan antara dirinya dengan pemerintah. “Saya tidak berseteru dengan SBY, hanya memang masih menunggu waktu untuk cooling down. Kalau seandainya diajak ketemu empat mata, saya bersedia kok.Asal jangan ketemu ramai-ramai. Mungkin SBY memandang masih belum perlu ketemu saya saat ini,” tuturnya.
Buya juga menekankan agar warga Muhammadiyah tidak takut berpolitik. Asal, kata dia, orang Muhammadiyah yang berpolitik praktis, tidak kehilangan jati dirinya. “Jangan seperti tukang pancing dilarikan ikan. Dan memang, Muhammadiyah untuk saat ini harus memakai pikiran dan hati untuk ikut menjadi bagian dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Jangan hanya mengurusi pemilihan dekan atau kepala sekolah di sekolah Muhammadiyah,” tegas tokoh nasional asal Sumbar ini.
