Jusuf Kalla membaca surat permintaan Gerakan Peduli Pluralisme (GPP) di kediamannya Jl Brawijaya Jakarta, Kamis (19/8/2010). GPP meminta Kalla untuk membatalkan rencana Hari Pembakaran Al Quran Sedunia di AS.JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, meminta warga Indonesia tidak terpancing dengan demonstrasi sekelompok orang di depan White House di Washington DC. Kalla meminta masyarakat Indonesia untuk menyikapinya dengan bijaksana.
"Ya itu tentu salah. Minta maaflah itu. Tapi kita janganlah menanggapi terlalu hebat karena itu bisa menimbulkan masalah lagi," katanya di depan kediaman pribadinya di Jalan Brawijaya Raya Nomor 6, Jakarta Selatan, Minggu (12/9/2010).
Menurut Kalla, rencana pembakaran Al Quran merupakan gertak sambal dari siapa saja yang memang ingin mencari popularitas. Para pengembus rencana seharusnya meminta maaf atas isu yang sangat sensitif ini.
Sementara itu, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam seharusnya tetap sabar. "Itu gertak-gertakan aja, untuk buat terkenal di dunia itu. Itu gertakan yang paling murah dan mudah yang bikin si Terry itu terkenal di dunia. Kalau enggak, mana terkenal dia? Popularitas saja. Masa kita mau ikut-ikutan macem-macem," ungkapnya kemudian.
