
LOMBOK BARAT, KOMPAS.com — Pemberitaan tentang ketegangan yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia membuat banyak calon tenaga kerja Indonesia atau TKI asal Nusa Tenggara Barat mengurungkan niat mereka untuk berangkat ke negeri jiran itu.
"Tidak sedikit dari calon tenaga kerja yang sudah mendaftar mengurungkan niatnya untuk mengadukan nasibnya di negeri jiran, Malaysia. Ini membuat perusahaan penyalur jasa TKI di Lombok Barat Nusa Tenggara Barat merugi," kata
Ari, salah seorang penyalur jasa (PJ) TKI, di Lombok Barat, Minggu (12/9/2010).
Menurut dia, kendati kerugian tidak besar, hal itu membuat pihaknya kewalahan memberikan penjelasan yang sebenarnya tentang memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia.
"Selama ini calon TKI yang akan diberangkatkan sebagian besar berasal dari pekerja pemula sehingga mereka merasa khawatir dengan pemberitaan tersebut," katanya.
Sementara itu, bagi calon TKI yang sudah senior, pemberitaan itu memang tidak mematahkan niat mereka untuk terus berangkat mencari nafkah di negara tetangga.
"Kami berharap, kondisi ke depan, pemerintah lebih mampu menjaga hubungan baik dangan Malaysia agar masyarakat yang hendak mencari sesuap nasi ke luar negeri dapat bekerja dengan tenang, aman, dan nyaman tanpa ada kekhawatiran," katanya.
Pernyataan berbeda dilontarkan Lalu Surapati selaku Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lombok Barat. Ia mengatakan, ketegangan hubungan antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia tidak mempengaruhi pengiriman TKI, khususnya asal Lombok Barat.
"Sejauh ini belum ada pengaruh karena pengurusan berita acara serta rekomendasi dan adiministrasi keberangkatan TKI masih berjalan normal," katanya.
Menurutnya, saat ini jumlah TKI asal Lombok Barat yang akan diberangkatkan pada bulan September ini mencapai 402 orang dengan daerah tujuan Malaysia.
"Itu artinya kisruh di antara pemerintah tersebut tidak memberikan dampak apa pun terhadap animo masyarakat yang hendak berangkat merantau ke negeri jiran," katanya.
