
FOTO: Pembuatan Arang Tempurung Kelapa.
CILACAP:- Arang tempurung kelapa dari Desa Panulisan Timur, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, berhasil menembus pasar Korea untuk dijadikan karbon aktif di negeri itu.
"Alhamdulillah, kami rutin terima pesanan dari Korea. Bulan ini saja kami harus mengirimkan tiga kontainer untuk tiga buyer (pembeli)," kata pengusaha arang dan briket tempurung kelapa Sinar Bara bernama Endeng Kusnanto di Desa Panulisan Timur, Kecamatan Dayeuhluhur, Cilacap, Sabtu (5/3).
Menurut dia, nilai ekspor arang tempurung kelapa tersebut mencapai Rp200 juta lebih karena dalam satu kontainer berisi 26 ton dengan harga Rp2.600 per kilogram. Arang tempurung kelapa yang diekspor ini terlebih dulu digiling menjadi butiran kecil berukuran sekitar satu sentimeter persegi.
"Arang tempurung kelapa nantinya akan dijadikan sebagai karbon aktif, antara lain untuk keperluan filter air pada industri air minum maupun menyaring limbah industri yang akan dibuang sehingga tidak mencemari lingkungan," katanya. Dari limbah arang tempurung kelapa (sisa penggilingan) dijadikan sebagai briket untuk bahan bakar alternatif.
Menurut dia, briket arang tempurung kelapa ini untuk sementara masih dipasarkan di pasar lokal melalui perwakilan pemasaran di Cirebon dan Yogyakarta di samping memasok kebutuhan bahan bakar di salah satu pabrik pengolahan teh. Kendati demikian, dia pernah melakukan ekspor briket tempurung kelapa ke Yunani pada 2005 sebanyak dua kontainer dengan nilai hingga Rp125 juta.
