TENGGARONG: Sepuluh penambang emas tewas di lokasi tambang Gunung Kiau Kaca dan Kiau Kaca Sule, Kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara (Kukar). Penambang liar itu diduga keracunan zat kimia yang mencemari Sungai Kiau Kaca.
Camat Tabang, Andrie Lidya Zainuddin membenarkan kejadian itu. Kata dia, lima dari 10 korban adalah warga Tabang. Sisanya dari Kutai Barat dan Malinau. Ironisnya, ujar dia, peristiwa baru diketahui dua pekan setelah kejadian. Ini akibat lokasi tambang yang terpencil.
"Mereka tak mendapat pertolongan medis karena lokasi tambang yang jauh. Mereka meninggal di tempat," kata Andrie, Sabtu (2/4) pekan lalu.
Lokasi tambang Kiau Kaca ke Tabang, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 2 minggu. Bisa juga ditempuh melalui Long Bagun, Kutai Barat dan Long Top, Kabupaten Malinau. Jaraknya bisa dipangkas menjadi 2 hari berjalan kaki. Tapi, harus melewati 18 sungai kecil dan tebing curam.
"Masih banyak orang sakit yang bertahan di sana (lokasi tambang). Rumah sakit terdekat di tempat itu ada di Kubar atau di Malinau," terangnya.
Tersiar kabar juga kalau tewasnya 10 penambang emas itu akibat mengonsumsi air jakan (bahasa masyarakat setempat; tapai yang terbuat dari ketan, Red), yang dicampur dengan minuman keras.
Namun, tokoh adat masyarakat Tabang, Edy Gunaman Areq Lung lebih meyakini kalau tewasnya penambang itu karena mengonsumsi air Sungai Kiau Kaca, cabang dari Sungai Belayan yang telah tercemar zat kimia merkuri. "Saya baru kembali ke Tabang kemarin. Ada satu orang lagi yang meninggal," kata Ketua Dewan Adat Dayak Provinsi Kaltim ini.
Kasus ini lanjut Edy, menjadi bukti keluhan 18 warga desa yang telah disampaikan ke Gubernur dan Kapolda Kaltim. Disebutkan, aliran Sungai Belayan telah tercemar zat-zat berbahaya berupa logam berat yang bisa menyebabkan kematian. Beberapa warga juga mengadu terkena gatal-gatal dan penyakit kulit.
"Kami berharap Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak segera menghentikan aktivitas tambang di Tabang. Karena kasus ini lintas provinsi. Juga, melibatkan penambang emas dari Kubar dan Malinau," katanya.
