
KEDIRI: Gara-gara sok pintar dan suka meledek, nasib Ananda Fariza (8), berakhir tragis. Ia tewas di tangan Chandra Sasmito (19), saudara sepupunya yang selama ini menjadi korban ledekannya, Sabtu (2/4).
Pelajar kelas I SDN Setonorejo, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri itu tewas setelah pelipisnya dipukul balok kayu serta lehernya dijerat ikat pinggang. Untuk menghilangkan jejak, mayat korban kemudian dikubur di tengah kebun tebu belakang rumahnya.
Usai menghabisi korban, pelaku Candra Sasmito kemudian kabur ke rumah saudaranya di Desa Pelas, tetangga desa dengan Desa Setonorejo. Pemuda itu diringkus polisi sekitar pukul 23.30 WIB.
Dari pengakuan Candra, dia tega membunuh saudaranya sendiri karena tersinggung sering diledek dan dicemooh korban. Meski usianya hampir 20 tahun, Chandra tidak tamat sekolah dasar (SD). Hal itulah yang selalu menjadi bahan olok-olok Ananda terhadapnya, bahwa ia tidak lulus SD karena tolol.
“Saya marah dan tersinggung karena setiap ketemu, dia (Ananda Fariza, Red) selalu mengolok-olok saya bodoh dan pemalas. Saking pegel (jengkel) nya anak itu tak pukul, kemudian tak jerat lehernya,” tutur pemuda berambut gondrong itu.
Chandra ingin menghentikan olok-olok itu dan ia pun menyusun siasat untuk membunuh saudaranya itu. Menurut Candra, untuk mengelabuhinya, pelaku Chandra mengajak korban bermain di kebun tebu. Begitu keduanya berada di tengah kebun tebu tiba-tiba pelipis korban dipukul dengan balok kayu.
Namun pukulan itu tidak mengakibatkan korban tewas, karena korban sempat meronta. Pelaku yang sudah kesetanan itu kemudian menjerat leher korban hingga lemas. Sadisnya lagi, pelaku dikubur saat korbannya belum tewas. “Waktu saya pendam di galengan tebu tubuhnya masih gerak-gerak,” ungkap Candra.
Pembunuhan itu terungkap berkat kecurigaan ibu korban Ny Mukaromah (35) yang sepulang bekerja pukul 15.30 WIB tidak menemukan anak satu-satunya itu di rumahnya. Ia semakin curiga karena makan siang yang disiapkan untuk Ananda masih utuh. Padahal biasanya, setiap pulang sekolah makan siang itu selalu dilahap anaknya.
Selain menunggu Ananda pulang, keluarga itu pun menggalang pencarian. Namun hingga sore, anak semata wayangnya itu tidak kunjung nongol.
